
dari REPUBLIKA, Senin, 04-01-2010

Kearifan Lokal
Upaya-upaya untuk mengantisipasinya telah dilakukan banyak pihak, meliputi kesiapan dan penanggulangan dampak gempa. Heri Syaefudin memiliki konsern atas hal tersebut. Dalam setiap kesempatannya menjadi seorang landscaper yang dituntut mendisain bangunan, dia gunakan konsep bangunan tahan gempa yang dibuat dari bahan-bahan "eco-friendly". Dengan menggunakan bambu sebagai bahan konstruksi disainnya, Heri menawarkan sebuah cara pikir yang antisipatif terhadap fenomena alam di
Bangunan-bangunan yang ada di lingkungan tempat tinggalnya di kawasan Situ Pengasinan menunjukkan kreatifitas karya yang sederhana namun unik. Pengoptimalan fungsi bambu, dalam pilar pendopo dua tingkat, pintu geser dan pagar-pagar bilik menegdepankan sentuhan khas kedekatan dengan alam-lingkungan. Walau bamboo secara efektif berdaya tahan 20-25 tahun, bagi Heri itu justru menjadi latar belakang proses kreatif yang hendak ditularkannya pada generasi berikutnya. Artinya bagi generasi yang akan datang dituntut pula untuk mendisain bangunan yang baru sebagai penggantinya. Sebuah kepekaan dan cara pandang pengalir berkah bagi sesama.
Lebih penting adalah bahwa cara Heri memberadakan karyanya sangat dinafasi oleh semangat seorang anak muda, yang rindu maujudnya rahmatan lil ‘alamin. Pada akhirnya lapis demi lapis intelektualitas manusia mestilah dilahirkan di pertengahan, sederhana dalam mengemban amanah keadilan atas alam, diri dan masyarakatnya. Semakin tinggi kerumitan teknis sebuah karya, maka akan semakin sederhana performansinya. Itu lah hukum keindahan teknologi apa pun.
Peramalan
Selain antisipasi, kita juga memerlukan sebuah metode peramalan gempa. Saat telah terdapat kemajuan dalam ilmu pengetahuan kegempaan, yaitu metode peramalan gempa. Metode ini dikembangkan oleh seorang ahli entomologi, Dr Reginald J Robert. Menarik untuk disimak, bahwa metode peramalan ilmuwan ini memiliki tingkat akurasi yang cukup tinggi, 70-90 %. Tidak begitu jelas terungkap, memang, tentang bagaimana Doktor RJ Robert membuat peramalan ilmiahnya tersebut. Namun demikian hasilnya dapat kita simak di situs :