Tuesday, 1 December 2009

Fenomena Alam : Antisipasi dan Peramalan

Oleh : Supatmono
(Disarikan dari Ombudsman, FB Michael Roland dan catatan pribadi)


Indonesia terletak di pertemuan lingkar pegunungan Mediterania dan Sirkum Pasifik. Selain itu Lingkar luar, Sebelah barat P Sumatera dan sebelah selatan P Jawa, merupakan garis pertemuan dua lempeng benua : Eurasia dan Australia. Sedangkan lingkar luar P Sulawesi, Maluku Utara dan P Papua, merupakan pertemuan tiga lempeng sekaligus : Eurasia, Australia dan Pasifik. Aktifitas gunung-gunung di Indonesia dan subduksi akibat pertemuan dua dan tiga lempeng benua tersebut di wilayah NKRI, mengakibatkan hampir sebagian besar wilayah Indonesia merupakan daerah rawan gempa bumi.


Kearifan Lokal


Upaya-upaya untuk mengantisipasinya telah dilakukan banyak pihak, meliputi kesiapan dan penanggulangan dampak gempa. Heri Syaefudin memiliki konsern atas hal tersebut. Dalam setiap kesempatannya menjadi seorang landscaper yang dituntut mendisain bangunan, dia gunakan konsep bangunan tahan gempa yang dibuat dari bahan-bahan "eco-friendly". Dengan menggunakan bambu sebagai bahan konstruksi disainnya, Heri menawarkan sebuah cara pikir yang antisipatif terhadap fenomena alam di Indonesia.

Bangunan-bangunan yang ada di lingkungan tempat tinggalnya di kawasan Situ Pengasinan menunjukkan kreatifitas karya yang sederhana namun unik. Pengoptimalan fungsi bambu, dalam pilar pendopo dua tingkat, pintu geser dan pagar-pagar bilik menegdepankan sentuhan khas kedekatan dengan alam-lingkungan. Walau bamboo secara efektif berdaya tahan 20-25 tahun, bagi Heri itu justru menjadi latar belakang proses kreatif yang hendak ditularkannya pada generasi berikutnya. Artinya bagi generasi yang akan datang dituntut pula untuk mendisain bangunan yang baru sebagai penggantinya. Sebuah kepekaan dan cara pandang pengalir berkah bagi sesama.

Lebih penting adalah bahwa cara Heri memberadakan karyanya sangat dinafasi oleh semangat seorang anak muda, yang rindu maujudnya rahmatan lil ‘alamin. Pada akhirnya lapis demi lapis intelektualitas manusia mestilah dilahirkan di pertengahan, sederhana dalam mengemban amanah keadilan atas alam, diri dan masyarakatnya. Semakin tinggi kerumitan teknis sebuah karya, maka akan semakin sederhana performansinya. Itu lah hukum keindahan teknologi apa pun.

Peramalan

Selain antisipasi, kita juga memerlukan sebuah metode peramalan gempa. Saat telah terdapat kemajuan dalam ilmu pengetahuan kegempaan, yaitu metode peramalan gempa. Metode ini dikembangkan oleh seorang ahli entomologi, Dr Reginald J Robert. Menarik untuk disimak, bahwa metode peramalan ilmuwan ini memiliki tingkat akurasi yang cukup tinggi, 70-90 %. Tidak begitu jelas terungkap, memang, tentang bagaimana Doktor RJ Robert membuat peramalan ilmiahnya tersebut. Namun demikian hasilnya dapat kita simak di situs :

http://www.nextearhtquake.com

No comments:

Post a Comment